Mei 2, 2011

Kematian

Dunia telah digemparkan oleh pemberitaan dari negeri Moscow ini, di mana seorang bankir tidak menginginkan kematian, dan membuat sebuah perusahan Teknologi untuk melawan kematian, …

… terdapat dua variable teknologi dimana pembekuan otak dan juga pembekuan jantung, pembekuan tersebut dilakukan beberapa dekade, mereka mengibaratkan manusia seperti komputer yang bisa diinstall ulang, dinon-aktifkan dan diaktifkan kembali otak dan jatung kita.

Kronisnya informasi ini ternyata sudah lama terjadi tidak hanya di Negara Rusia tetapi juga di Negara Prancis sudah berlangsung kegiatan ini tapi hari ini sudah dilarang. …

Ditulis oleh: Andira Reoputra, ST

http://sosbud.kompasiana.com/2010/07/02/teknologi-melawan-kematian/

Kematian.

Banyak dari kita merasa kata itu terlalu kasar sehingga lebih nyaman untuk menyebutnya ‘meninggal’. Mungkin indikasi dari sebuah ketakutan. Berhadapan pada situasi ketiadaan, keterpisahan dan kenyataan memasuki kenihilan abadi seorang diri.

Tua.

Napas mulai terengah-engah, jantung mulai melemah, pandangan mulai menyamar. Entah pikiran mengetahui bahwa ini saatnya untuk pergi.

Pada waktu yang telah habis, saatnya memberikan jatah ruang dan waktu kepada insan-insan lain sebelum ruang di bumi penuh.

Ada giliran yang harus diberikan kepada yang lain untuk meneruskan cerita kelangsungan hidup spesies kita di alam. Hukum kontrak dengan alam, untuk bergantian ketika waktu kita telah selesai.

Banyak dongeng menceritakan berbagai keinginan dan usaha manusia untuk menjadi abadi. Tokoh-tokoh legenda pria jahat ingin kekekalan hidup untuk melanjutkan usahanya menguasai dunia, sedangkan wanitanya ingin kecantikan muda yang bertahan selamanya mengikuti keabadian mereka.

Mitos bangsa Cina tentang siklus penampakan bulan yang bercerita mengenai seorang raja yang tidak bisa mati. Ia tetap hidup meski kepalanya telah termakan dan kemudian terbentuk kembali.

Agama-agama menawarkan kehidupan kedua pasca kematian. Kehidupan abadi tanpa ada kematian yang terjadi lagi.

Mengapa kematian begitu menakutkan?

Ada apa dengan kematian sehingga terlalu berat untuk diakui keberadaannya?

Bukankah kehidupan memiliki ketakutannya sendiri?

Ketika badan sudah terlalu tua untuk digerakkan, sedang pikiran masih berharap kekuatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dan menghapus penyesalan akan penyia-nyiaan waktu, apakah kematian masih lebih menakutkan?

Aku membayangkan diriku berusia 85 tahun atau lebih. Berbaring lemah di sebuah tempat tidur dalam kamar, kaki tidak lagi kuat untuk berjalan, bahkan hanya untuk ke kamar mandi pun juntai. Kedua mataku hanya untuk memandangi enam kali delapan meter persegi luas kamar yang telah menjadi duniaku selama beberapa tahun.

Hidup hanya berarti ‘sisa’, ibarat hanya tinggal menunggu waktu ‘penjemputan’. Itu baru menakutkan.

Ketika kematian itu datang, saat itulah penghargaan mengenai hidupku dimulai.

Aku memasuki dunia sejarah.

Apa yang telah kuperbuat, apa yang kutinggal, kenangan apa yang mereka tangisi tentangku, atau kalimat-kalimat yang tersusun pada eulogi mereka di pemakamanku. Aku membutuhkan itu sebagai bagian dari pengujian mengenai hidupku. Jika aku tidak mati, tidak akan ada momentum untuk melengkapi penghargaan akan aku. Ibarat sebuah lingkaran yang garisnya belum bertemu di satu pangkal, maka kematian yang mempertemukan dua ujung garis itu sehingga ia disebut lingkaran.

Aku membutuhkan kematian agar aku menciptakan kesadaran akan kebutuhan untuk aku menjadi bermakna dalam waktuku, karena kutahu hidupku hanya sementara.

Kematian itu indah (tergantung bagaimana kita membuat jalan menuju kematian tersebut).

Iklan
April 15, 2011

Karena dan Agar ‘Eksis’

Entah ini merupakan sebuah pergeseran atau bukan, tapi aku masih menilainya janggal. Bukan sebuah hal baru, tapi sudah tertanam lama pada suatu zaman baru. Mungkin ada yang menyebutnya zaman globalisasi, ketika semua sudut belahan dunia sudah bisa saling terhubung dalam suatu wadah jaringan global.

Era ini adalah era di mana privasi menjadi komoditi publikasi, sedangkan hubungan interpersonal menyusut akibat kehausan akan pengakuan eksistensi. Zaman di mana semua orang gemar menyelebritisasi dirinya sendiri, mungkin karena kekhawatiran yang tidak disadari akan keterpisahan dari dunia. Ketakutan akan ‘hilang’ dari dunia, meskipun masih ada.

Begini maksudku.

Kalian sudah mengenal online social network bukan? Seperti facebook, twitter dan lainnya. Begitu mudah sekarang untuk kita mengumpulkan ‘teman’, tapi berapa banyak dari mereka yang adalah ‘benar-benar teman’? Apa arti dari dua ribu enam ratus delapan puluh tiga orang yang terhubung dengan akun facebookmu sebagai teman?

Tampaknya ada yang sangat bangga dengan angka-angka itu dan menjadikan angka tersebut sebagai sebuah pernyataan yang mengandung prestis tersendiri. Padahal, kalau kita main jujur-jujuran, yaa… Paling hanya lima puluh persen dari jumlah itu yang kita mengenalnya secara pribadi. Atau bahkan, hanya sepuluh persen dari jumlah itu yang berhubungan dengan kita secara aktif.

Sekarang, ayo kita membahas orang-orang dalam anggota sepuluh persen yang baru kusebutkan di atas.

Mereka berulang tahun, kita ucapkan melalui wall facebook atau cuapan twitter.

Hari raya natal atau lebaran, tidak perlu repot-repot mengirimkan kartu ucapan lewat pos, kita hanya tinggal Broadcast Message. Pun tidak perlu menuliskan nama mereka yang dituju, hanya ketik, kemudian kirim. Tidak perlu juga memilah mana mereka yang merayakan dan mana yang tidak, hanya sebar saja ke semuanya secara merata seakan kita semua satu agama. Ah.. Atau, ada aplikasi di facebook yang memungkinkan kita mengirim ucapan selamat ulang tahun atau hari raya dengan kalimat yang sama kepada seluruh ribuan ‘teman’ kita.

Ya, tidak perlu membuat pesan itu menjadi personal. Atau, hubungan interpersonal tidak perlu lagi sehangat atau sedekat dulu, yang penting, “Kita masih eksis!”

(Mungkin ini yang melatarbelakangi pembedaan kata ‘ada’ dengan kata ‘eksis’ pada masa sekarang sebagai akibat dari adanya kata serapan ‘exist’ dari bahasa asing. Kita ‘ada’ tapi belum tentu ‘eksis’. Sebaiknya kita ‘ada’ dan ‘eksis’.

Iya, karena dan agar kita eksis, maka kita beritakan kepada mereka segalanya.
“Saya sedang berada di Tempat-Paling-Happening di Jakarta”, “Jadi pacar ga bisa ngertiin akuu, kita PUTUS!”, “Abis berantem sama mama”, “Aduh kaki keseleo” atau sudah jenuh jadi single dan kangen punya pacar lagi: “Dibuka lowongan bagi siapapun yang mau jadi pacar saya, silakan mendaftar”.

Mempublikasi diri kita sekarang sudah sangat begitu mudah. Tidak perlu jadi artis dulu untuk bikin konferensi pers (ya, keuntungannya kalau jadi artis, banyak yang peduli sama beritanya sih).

Privasi jadi dagangan, bayarannya adalah komentar dari teman yang jadi followernya. Kalau dagangannya laku keras, pengunjung alias followernya jadi banyak, uang alias mention & replynya jadi banyak juga.

X : Tapi gimana kalau dagang, tapi tidak punya komoditi?

Y : Siapa bilang tidak punya komoditi, kalau tidak punya hal bermutu untuk dibagi, kan bisa publikasi privasi sendiri. (cekikikan)

Ya.. Menggelitik sih. Saya bosan dengan orang-orang yang mendagangkan privasi. Saya rindu cipika-cipiki atau obrolan intim. Atau ucapan ulang tahun dan hari raya yang personal. Saya rindu kedekatan purba, di mana bukan jumlah orang yang menjadi isu, melainkan kualitas kedekatan meskipun hanya dengan satu orang.

April 5, 2011

Sekedar

Ada sesuatu yang tersembunyi waktu dia menghampiri saya di tepian jalan. Tidak ada yang menarik untuk membuat bertanya dia akan ke mana, kecuali melihat dia berkeringat banyak, membuat saya ingin bertanya, “Lelah?”


Dia kemudian melanjutkan perjalanannya.
Dia terus berjalan, dia tahu akan ke mana.
Dia tahu apa yang dibawa sebagai perbekalan.


Dia berjalan sendiri,


tapi dia tidak tahu bahwa dia berjalan dalam kesendirian.


Ada yang tidak dipersiapkannya untuk itu.


Siapa yang akan berkata:
“Ketika ada dua persimpangan yang kamu temui di depanmu, salah satu di antaranya akan membuatmu tersesat. Tidak apa untuk tersesat, tersesat berarti membuatmu melihat lebih banyak daripada langsung berjalan menuju rumah.”


Atau hanya sekadar berkata:
“Jika kamu lelah, tidak apa berhenti berjalan sesaat dan beristirahat. Akan ada saat energimu habis, dan kamu harus berhenti menekan dirimu terlalu keras.”


Ada yang berjalan dalam persembunyian di tepian jalan dan melihatnya dari kejauhan. Bukan mengikuti, niat hanya menemani. Belum juga dapat terbilang mengiringi.


“Tidak apa, tidak apa,” gumam saya, “jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri dalam perjalananmu,” hanya dalam hati.


Ia sempat tersesat,
namun akan pulang dalam kedewasaan.

Maret 10, 2011

Orgy


Jika Tuhan dan Manusia bercinta, keduanya tidak akan membuat orgasme bagi satu sama lain.

“Hahaha.. Gila! Hati-hati dituduh menodai Tuhan dengan kata-katamu.”

“Jangan ketawa, memangnya kamu tidak pernah orgy party?”


Dia malah benar-benar tertawa, “Apa urusannya tuhan dibawa-bawa ke orgy party? Tidak ada yang mengucap ‘bismillah’ sebelum melakukan perzinahan.”

“Ya, karena zinah tetap saja haram. Baguslah, kamu juga bilang kita dan tuhan melakukan perzinahan.”

Apalagi yang bisa dilakukan sepasang pengantin, jika tidak bercinta? Bukankah tuhan dan manusia adalah sepasang pengantin?

Tapi terlalu banyak manusia yang ingin memuaskan pengantin mereka dengan caranya sendiri. Hah, orgy party. Tapi kita seperti serigala-serigala jantan horny yang menjuntai-juntaikan lidahnya untuk mengejar satu serigala betina. Air liur yang menetes dari lidah menandai birahi yang membakar semangat serigala untuk segera mendapatkan betinanya.

Kau pikir tuhan tidak lelah untuk melayani begitu banyak, satu per satu manusia yang keukeuh dengan kepercayaan diri mereka masing-masing dan menjadikan manusia bertahan dengan kejamakannya?

Atau kita saling berkompetisi untuk memuaskan tuhan yang sama?

Percintaan macam apa?! Yang ada, tuhan hanya tertawa melihat kita saling bersaing dan berebut jatah untuk menjangkau dia. Tidak ada yang dapat menjangkau dia dan tidak ada yang mendapat kepuasaan dalam hubungan. Tidak ada percintaan. Tidak ada yang bercinta.

Pun, aku pernah ikut serta dalam orgy party. Meskipun kami beramai-ramai bergumul telanjang, saling menciumi, pada akhirnya aku hanya butuh satu untuk memancingku mencapai orgasme.

“Perzinahan itu haram.” Siapa yang mau dituding? Kita? Atau tuhan? Tuhan sudah satu, hanya kita yang melibatkan tuhan di pesta orgy ini, karena kita yang jamak.

Manusia dan Tuhan adalah sepasang pengantin. Kamu dapat terpuaskan oleh satu orang pasanganmu. Aku tidak mengerti, jika manusia tidak bersatu, bagaimana manusia dan tuhan bisa saling mencapai orgasme?

Januari 10, 2011

Kemaluan

Aku sedang duduk menikmati angin mengenai seluruh tubuhku. Ah.. Udara ini nyaman dan aku bisa menikmatinya tanpa berbayar. Aku seorang diri.

Aku merasakan angin bergerak di relung antara kedua payudaraku, turun mengenai perut kemudian berjalan ke belakang, ke arah bokongku. Tubuhku dipuja oleh alam melalui angin dalam rengkuhannya. Matahari memberi kehangatan melebihi segala afeksi. Aku cantik dan alam mengakui tubuhku erotis. Ia memuja dengan caranya yang santun.

taken from http://www.divephotoguide.com/
Suara ombak dan burung melengkapi kenikmatanku melalui indera pendengaran. Mataku bisa memandang ke segala penjuru mata angin, tanpa batasan. Cakrawala hanya batas satu-satunya. Sayang, kakiku terlalu kecil untuk melangkah ke batas penglihatanku.

Aku tidak perlu malu untuk telanjang di depan burung-burung dan kerang yang tidak berbaju, sama sepertiku. Aku menikmati kebebasan berbatas pikiranku.

***

“Kenakan pakaianmu!” Seorang bapak setengah baya tiba-tiba tampak di hadapan punggungku. Ia memakai setelan jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya, “Tutupi payudaramu, atau mereka akan melepaskannya dari dadamu seperti pepaya ranum yang dipetik dari sebuah pohon besar!”

Dia menggangguku dengan intimidasinya.

“Pakai ini!” Ia menyodori pakaian dan menyuruhku memakainya dengan nada yang setengah geram.

Aku mengambil pakaian itu dan mengenakannya. “Lihat, aku sudah memakainya sesuai dengan permintaan Anda.”

“Belum cukup, aku masih bisa melihat buah dadamu dan puting susumu yang bulat sempurna.” Ia melepaskan jasnya dan lagi, menyuruhku untuk memakainya.

Aku memrotes permintaannya, “Tidak, itu berlebihan. Tidak ada yang memakai jas untuk menikmati angin di pantai.”

“Diam, dan pakai!”

Ia menggertak, dan aku gentar. Aku melihat alat kelaminnya menegang karena ada sembulan undakan di bagian retsleting celananya yang sebelumnya tidak ada. Akhirnya aku mengambil jas itu dan mengenakannya. Aku tampak konyol sekarang.

Aku iri pada burung dan kerang yang telanjang tanpa dilarang karena tidak ada birahi yang menyala karena aurat mereka.

“Ah, gua platomu itu,” ia mengarahkan pandangan ke bawah, celana ini menjadi semi transparan karena menutupi pinggangku yang basah.

Bapak itu menyebut liang ini sebagai gua plato. Aku mengerti sekarang, ia takut ketika masuk ke dalamnya, ia tidak akan berani untuk keluar. Hormonnya akan berkata, “Kokain.. Kokain..” Kemudian ia memandang dunia di dalam gua begitu indah dan ideal, “Kokain.. Kokain..”

Kemudian ia menggiringku ke sebuah kamar, aku mungkin akan diperkosa.

Namun, tidak.

“Aku laki-laki suci, aku tidak akan menyentuh tubuhmu meskipun aku akui aku sangat tergoda,” ia mengunciku dalam kamar, “pakaian tidak akan mampu mencegah tubuhmu membangun birahi.”

Aku membenci pria ini. Lebih baik ia memperkosaku kemudian ia pergi membiarkanku kembali bebas.

Ia kembali membuka pintu kamarku.

“Apa maumu?” Tanyaku.

“Kenapa kamu tidak enyah saja dari sini, kelaminku tidak berhenti untuk ingin menyambutmu,”  undakan ereksi kelaminnya masih di sana.

Aku membawa ia masuk ke kamar dengan sedikit kata-kata menggoda. Ia bersedia.

Aku membawanya ke tempat tidur, dan memeluk pinggangnya. Matanya menatap dalam-dalam mataku, dan aku membalasnya dengan senyuman. Wajahnya kini aneh, tegang karena merasa bersalah tapi juga aku bertaruh ia menikmatinya.

Adrenalin sedang memenuhi otaknya.

Aku berdiri dan berjalan ke arah pintu. Kututup pintu kamar, dan menguncinya agar tidak ada orang yang tahu. Biarkan ia akan memiliki waktu bagi dirinya sendiri secara sempurna.

Aku di luar, ia di dalam.

Aku kembali ke pantai dan kembali bercengkaram dengan alam.

Di dalam tembok, ia kini berbeda dari sebelumnya.

Di dalam kamar, laki-laki itu bergumam, “Ya, kini aku bermoral.”

November 30, 2010

Rindu Purba

Anak-anak kecil berlari. Sebuah kompetisi dadakan yang membuat tawa di pipi mereka yang tipis, yang masih terlihat urat-urat merah jambunya bercabang-cabang. Garis akhir ada di ujung jalan tepi pantai, di sebuah lapangan depan bangunan balai desa. Perlombaan yang dirancang sendiri sedetik atau dua sebelum mereka memutuskan untuk berlari.

Anak-anak itu mungkin berumuran sekitar delapan atau sembilan tahun.

Di sebuah rumah yang mereka lewati, seorang bayi lahir telanjang. Kulitnya merah dan masih berlendir, masih segar dari kandungan ibunya. Batang kelaminnya masih kuncup, ia anak laki-laki yang masih bau anyir, belum tersunat. Menangis karena terkejut akan perubahan yang begitu drastis dari rahim ibunya ke ruangan di mana waktu hidupnya mulai dihitung.

Sang bayi diletakkan di dada wanita yang melahirkannya. Ia harus menemukan puting untuk dihisap agar tahu bagaimana ia bisa menemukan susu yang akan menghidupinya beberapa tahun ke depan. Ia memilih yang kiri. Puting kanan dapat menjadi kepunyaan bapaknya. Rahangnya akan bergerak menarik dan menekan menghasilkan hisapan, digerakkan oleh insting tanatos yang tidak pernah diajarkan saat ia masih di dalam air ketuban. Setelah bayi tidak menyusui lagi, kedua puting ibu akan menjadi milik suaminya kembali dan ibu akan mengandung adik dari sang bayi.

Anak-anak yang berlari telah sampai di garis akhir. Si jangkung yang menang, tapi tawa menjadi milik semua. Waktu mereka hanya tinggal belasan tahun sampai mereka nanti tidak dapat lagi berlari. Mereka hanya bisa berjalan. Hidup mereka akan tersita oleh kewajiban mencari uang, dan kaki mereka akan dibatasi larangan untuk berlari di ruang-ruang kerja mereka. Belasan tahun kemudian mereka akan menjadi sama dengan bapak ibunya, menjadi makhluk-makhluk pencari uang pada sistem yang telah dijabarkan oleh Karl Marx. Hanya saja, bapak ibunya masih menyangkal kalau uang itu adalah Tuhan. Padahal mereka sama-sama tahu bagaimana zaman digerakkan oleh uang.

Kolonialisme karena adanya perbedaan kekayaan, revolusi karena impian perbaikan moneter, atau bahkan penyebaran agama yang membutuhkan pembiayaan. Uang adalah Tuhan dan perdagangan adalah agamanya. Agama itu sendiri menjadi waham.

Bapak ibu rindu hidup seperti kakek neneknya. Waktu bapak dan ibu dari bapak dan ibu mereka masih kecil, waktu-waktu hanya dihabiskan untuk bermain dan berladang. Anak-anak hanya dipersiapkan untuk menjadi petani dewasa. Apa yang mereka tanam, itu yang mereka makan. Kebijaksanaan masa itu hanya sebuah filosofi kepatuhan pada hukum alam yang diatur dalam adat-adat tatanan masyarakat.

Hari ini, setelah anak-anak selesai berlari, mereka akan pulang. Hari telah malam dan mereka harus segera tidur untuk besok pagi pergi ke sekolah. Kepala mereka harus diisi oleh pengetahuan dari buku-buku pelajaran. Jendela dunia yang membuat anak-anak dapat melihat banyak hal yang terpapar di bumi. Sejarah, negara, geografi, bahasa, matematika, ideologi dan banyak lagi lainnya. Sejuta pengetahuan mungkin jumlahnya. Termasuk pengetahuan tentang gedung-gedung tinggi, alat-alat canggih, barang-barang mewah, dan daya tarik wisata luar negri yang menumbuhkan rasa iri dalam hati mereka, dan kekecewaan karena pergi ke sana membutuhkan biaya. Mereka dipersiapkan untuk beranjak dewasa dan siap untuk berebut anak tangga menuju ke strata atas dari kehidupan sosial. Kekayaan menggantikan kesejahteraan, perdagangan membuat mekanisme pertahanan hidup sederhana menjadi kompleks. Ayah dan ibu tidak berladang atau melaut untuk perut mereka, mereka masih harus menukarnya dengan uang, dan uang harus ditukarnya lagi dengan beras. Barulah nanti beras bisa masuk ke dalam perut untuk mereka bertahan hidup. Kebijaksanaan modern tumbuh dalam sebuah alibi kemajuan zaman, di mana kebijaksanaan itu berkata banyak tentang kesuksesan, kejayaan, pantang menyerah kemudian dibungkus dengan kerendahan hati. Banyak yang berkata-kata seperti ini, seperti yang ditemukan di seminar-seminar bisnis dan wirausaha. Saham, harta, perusahaan, atasan, bawahan, dan pekerjaan mulai mengintervensi filsafat-filsafat praktis yang dijadikan lahan bisnis milyaran. Masa lalu dipersalahkan melalui kata ‘primitif’.

Primitif yang berarti miskin, tidak sukses, tidak berjaya, tidak berprestasi. Mungkin mereka yang berkata seperti itu belum dapat tamparan dari masyarakat Papua atau Baduy, di mana kebutuhan mereka hanya makan dan berbudaya sesedianya. Mereka tidak butuh komputer, mobil, atau pakaian mahal. Kaum sosialita tanggung mungkin lebih miskin dari mereka meskipun uangnya jauh lebih banyak. Ada yang sembunyi-sembunyi menyewa tas Hermes belasan juta hanya untuk dipakai beberapa jam, atau membeli Prada-Prada palsu, yang tentu saja dirahasiakan kepalsuannya.

Aku rindu purba.

Sekumpulan wanita Amerika berunjuk rasa dengan telanjang dada. Mereka menuntut kesetaraan dengan pria untuk dapat membebaskan tubuh bagian atasnya tanpa benang. Tapi masyarakat modern sudah menganggap payudara mereka sebuah aurat. Tabu untuk dilihat. Kemudian, sekumpulan wanita rindu purba itu akan menganggap sang masyarakat modern sebagai konservatif, terlalu memegang teguh agama yang telah menjadi waham.

Bayi itu lahir telanjang.

Mungkin purba akan menjadi modernitas baru karena kejenuhan pada modernitas lama.

Aku rindu purba.

November 8, 2010

Tanaman, Pot, dan Pemilik

Pot tanaman pecah. Tanaman itu harusnya sudah menjadi pohon, tapi sekarang mati. Akar sudah tidak memiliki tanah lagi untuk ditancapnya. Air juga sudah tidak ada penampungya untuk berkapilaritas ke dalam akar-akar serabut. Butir-butir tanah berarakan di sekitar pot. Keramik sudah terbelah. Si tanaman mati.

Kalau tanaman itu ada di kebun, dia pasti sudah menjadi pohon yang besarnya akan mengalahkan beringin puluhan tahun. Tapi tanaman itu tidak diijinkan tumbuh, padahal ia ingin tumbuh. Tempatnya tidak cukup. Tumbuh itukan kebutuhan, setiap makhluk hidup itu bertumbuh.

Sekarang tanaman itu mati, karena tidak diijinkan tumbuh. Pot itu sudah pecah, tanah sudah berserakkan. Itu menjadi tugas yang membebankan pemiliknya. Sang pemiliknya harus membersihkan wilayah sekitar pot yang kotor. Ia harus menyapu tanah itu dan mengumpulkannya lagi. Ia harus membeli pot yang baru dan memasukkan tanah itu ke dalamnya. Tapi sang pemilik ingin pot keramik yang pecah itu. Tanah bisa saja sama, tapi tanaman itu sudah terlanjur mati. Pot itu sudah terlanjur dipecahkan tanaman yang mati. Itu menjadi hutang yang tidak terselesaikan. Pemilik harus membunuh keinginannya.

Ada bibit tanaman baru yang  datang, pemilik membelinya di sebuah toko tanaman yang sama waktu ia membeli tanaman yang lama. Pemilik menempatkannya di dalam pot baru juga. Pot yang baru itu terbuat dari plastik. Ukurannya lebih kecil daripada pot yang lama, yang terbuat dari keramik. Pemilik tidak mengijinkan tanaman baru itu bertumbuh. Bertumbuh untuk menjadi sebesar pohon beringin yang berusia puluhan tahun. Pemilik menempatkannya di pot plastik berukuran kecil, supaya jika tanaman itu hampir mati, pemilik tinggal membuangnya. Toh, pot plastik itu tidak semahal pot keramik yang dimilikinya dulu.

Tag:
Juli 24, 2010

Komedi Penciptaan

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”


Ini kisah langit, sebelum DIA memutuskan untuk menciptakan bumi, yang kemudian langit dan bumi berdampingan menciptakan dikotomi mereka.

DIA tidak diciptakan. Ada dengan sendiriNYA, tidak pernah ada dalam ketidakberadaan. DIA bilang begitu. Tidak seperti aku yang diciptakan dan pernah ada dalam ketidakberadaanku. Kata DIA, aku pernah tidak ada, tapi aku tidak ingat apa-apa ketika aku tidak ada. “Apa iya, DIA tidak pernah tidak ada? Atau DIA hanya tidak dapat mengingat apapun dalam ketidakberadaanNYA?”

Langit itu sepi. Hanya ada DIA yang tidak diciptakan, sedang yang lainnya masih angan. Siapa yang berani membayangkan masa itu? Kalau aku bayangkan, rasanya seperti mati lampu di rumahku. Gelap, sama seperti buta. Itu pun sudah ada lantai untukku menapak dan kursi untukku duduk, menunggu hingga lampu rumah menyala lagi dan cahaya muncul. Namun, apa jadinya langit kala itu, tidak ada cahaya, hitam. DIA tidak bisa melihat apa-apa. Tidak bisa menapak, apalagi duduk. Hampa.

DIA tahu cahaya itu tidak akan pernah datang, sebaiknya DIA tidak menunggu. Menyakitkan, untuk menunggu sesuatu yang aku tahu tidak pernah datang.

Tidak ada yang lain, selain DIA. Hanya ada DIA dan kehampaan. Mereka berperang.

Kehampaan tidak melakukan apa-apa selain menyelimutiNYA. DIA harus melawan. Hampa tidak berkata-kata, pun tanpa gerak. Hampa hanya menjadi hampa.

Apa yang bisa aku lakukan dalam kehampaan, ketika hanya ada aku dan yang lainnya adalah aku juga? Tidak ada yang bisa aku ajak bicara, aku hanya bisa memeluk diriku sendiri. Tidak ada yang dapat memberitahu siapa aku, bagaimana rupaku. Pun cermin tidak dapat melakukan itu karena tidak ada. Tidak ada mereka untuk aku bantu agar aku menjadi berguna. Mereka untuk memberiku nama. Melihatku, mendengar, meraba, memukul, mencemooh, mencintai dan membutuhkan aku. Tidak ada mereka, untuk menganggapku ada. Keberadaanku, tidak ada yang menyadarinya.

Apa yang akan ada di benakku kala itu? Hanya hampa yang ada di kepalaku, karena hanya hampa yang ada di sekelilingku. Jangankan mereka untuk mengakui aku, aku saja tidak yakin akan mampu mengakui diriku sendiri. Gelap, aku tidak dapat melihat tanganku sendiri. Hitam, hanya itu yang akan aku ketahui dari diriku sendiri. Tidak akan ada pengetahuan tentang pribadi sendiri. Aku sama hampanya dengan kehampaan di sekelilingku. Tidak akan ada ingatan tentang aku. Aku hampa tanpa kesadaran. Pun DIA, di kala itu. Tanpa pengakuan ‘AKU ada’ di kala itu, pun tidak dari diriKU sendiri, apakah AKU ada?

Tidak, inilah ketiadaan.

Aku tidak tahu lagi hingga pada akhirnya DIA menciptakan terang dan isi langit. Apakah DIA menyerah dari kehampaan? Namun pikirku, DIA mau mengisi langitNYA.

“Allah menciptakan malaikat dari cahaya, menciptakan jin dari nyala api, …..”

“Jadilah terang” dan terang itu jadi. Terang dipisahkan dari gelap. Terang diberiNYA nama siang dan gelap dinamakanNYA malam. Dari terang, DIA menciptakan malaikat. DIA memiliki teman, bahkan bala tentara. Sekumpulan pemuji, pemuja, penolong dan pembela. Malaikat adalah hamba-hamba yang dimuliakan.

Dia mendapatkan keberadaanNYA. Keluar dari kesendirian, menjulang, duduk sebagai raja. Malaikat menyelamatkan DIA dari ketidakberadaanNYA.

Menyedihkan, beberapa dari para hamba ini berkhianat. Membentuk sekutu karena iri. Mereka tergiur dengan kekuasaan Tuannya. DIA mengusir mereka. DIA bertanya-tanya, mengapa malaikat bisa menyakitiNYA.

DIA menciptakan malaikat dari cahaya, dan jin dari api. Malaikat, diciptakan dari cahaya yang berasal dari matahari, matahari terbuat dari api. Terang cahaya pada siang hari. Dalam terang pun ada api. Api menjadi jin dan terang menjadi malaikat. Api yang menyebabkan terang itu ada. Bukan kah demikian adanya, DIA yang membedakan dengan nilai, jahat ada karena baik itu ada, namun keduanya adalah satu materi yang sama?

Akhirnya DIA menciptakan aku. Tidak dari api ataupun cahaya. DIA menciptakan aku dari tanah, setelah DIA menciptakan bumi dan alam. DIA menciptakan aku dari bahan yang sangat berbeda dari yang pernah DIA gunakan sebelumnya. DIA berharap aku tidak seperti malaikat, yang cahayanya berubah menjadi sifat api. Aku dibuat dari bahan yang lebih kokoh, aku harus konsisten dengan sifatku. DIA ingin menciptakan keberadaanNYA lebih sempurna dengan menciptakan keberadaanku.

Ya, aku kokoh pada pilihan sifatku. Aku menyatukan cahaya dan api di dalam DIA, karena DIA yang menciptakan mereka. Sama seperti memandang bumi dan langit bukan lagi dikotomi mitologi, tetapi keduanya adalah kesatuan dalam bola dunia.

Ray Naheson Anemiel Hendriks
24 Juli 2010, 12:34.

Tag:
Juni 22, 2010

Inferioritas Narsistik

Cermin di sebuah ruangan, tempat ku membuang-buang waktu atau memanjakan kemalasanku. Dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang, cermin itu tidak perlu terlalu jujur untuk memantulkan bayangan fisik.

Fisik, hanya fisik. Aku tidak menyebut “diri” tapi aku menyebut “fisik”.

Diri, aku melihat tubuh dan “aku” dalam kesatuan pribadi yang utuh. Tapi, di sana aku hanya melihat fisik.

Aku sering melihat bayangan yang berdiri di sana, namun aku memutuskan untuk tetap mengaggapnya asing. Kalau aku menyebutnya sebagai pantulan diriku, tampan sekali rupa itu. Tidak akan keberatan untuk ku membawa cermin itu ke mana-mana dan menunjukkan kepada orang, itu adalah aku.

Di cermin itu, tidak ada kulit yang kusam, mata yang muram, pipi yang berlubang, atau gigi yang berkarang. Semuanya tampak sempurna. Sesempurna itu sampai aku mengagumi sosok yang sedang berdiri membalas tatapanku.

Kalian harus melihat betapa indah hidungnya yang menjulang di antara dua buah alis yang tebal. Bentuk mata yang tidak terlalu besar, namun tatapannya yang tajam mengesankan ia sedang melihat sesuatu yang jauh di depan. Bibir atasnya tampak seperti dua gunung kembar dalam lukisan anak-anak, yang akan terbit matahari dari tengahnya. Sedang, bibir bawah tampak seperti tebing batu yang kokoh menyangga dua buah gunung di atasnya.

Aku, cermin dan dia. Dia, si tampan.

Tak cukup lama aku menikmati interaksi kami, seorang teman masuk ke ruang itu. Ia mengganggu kencan kami.

Ia bertanya, “Sedang apa?”

Jawabannya langsung didapat dengan melihat aku yang masih berdiri di depan cermin.

Aku sadar sedang diperhatikan olehnya. Aku meminta, “Jangan lihat aku, lihatlah dia yang berdiri di seberangku.”

Aku ingin sekali melepas cermin ini dan membawa dia pergi bersama denganku ke manapun. Aku ingin memperkenalkan dia sebagai aku dan aku bersembunyi di baliknya.”

“Bagaimana mungkin? Dia itu pantulan dirimu, bodoh!”

Kalaupun memang benar demikian, baiklah kalian menatap dia yang di sana, bukan aku di sini. Aku bisa bekerja sama dengannya, dengan aku yang bersuara dan dia yang menggantikan visualisasi ku. Aku lebih senang didengar, daripada kalian menatapku berlama-lama.”

“Lalu, siapa yang akan menciptakan ‘pribadi’?”

Aku, jika benar yang kau bilang tadi, dia adalah pantulanku.”

“Dia adalah pantulanmu, namun kau yang mengaguminya. Jadi siapa yang akan menciptakan ‘pribadi’?”

Apa masalahmu? Bukankah selalu begitu kita? Aku menciptakan ‘pribadi’ untuk memuaskan KU, dan KU menciptakan ‘pribadi’ untuk memuaskan kalian? Ketika aku bercermin di sini, bayangan ku seperti memuji diriku, karena aku terlihat sangat tampan. Tapi, begitu aku kehilangan bayanganku, kehilangan dia, aku meragukan lagi ketampanan ku yang dibawa olehnya.”

“Topeng kah itu?”

Apa bedanya aku, dan dia, jika menurutmu dia adalah pantulanku? Aku membuat dia, dan aku lebih nyaman menjadi dia untuk menghadap kalian meskipun aku adalah dia. Aku, hanya memisahkan diri ku dari AKU, karena AKU memiliki segala kapasitas pribadiku. Tapi AKU, adalah pria yang sedang bersembunyi di balik dia, sosok di cermin itu, karena aku lebih percaya dia untuk menghadapi kalian dibanding aku sendiri.”

“Dan, cermin adalah dirimu juga?”

Cermin bukan diriku maupun diriKU, dia hanyalah bagian dari diri kami. Dalam cermin, ada kebersatuan dari keterpisahan kami. AKU bisa melihat aku pada saat menjadi aku, karena AKU tidak memiliki kemampuan untuk melihat AKU tanpa menjadi aku terlebih dahulu. Di situlah cermin dibutuhkan.”

Temanku itu pergi. Entah apa yang ada di pikirannya. Setuju atau tidak, biarkan ia bermain dalam pikirannya. Kalaupun dia tidak peduli dengan ucapanku, dia hanya berpura-pura. Dia terlihat berpikir tadi. Atau mungkin apa yang aku bicarakan terlalu rumit? Jika ya, sebaiknya ia menyampaikan kebingungannya, karena aku dengan sangat senang hati akan memberikan ringkasan sederhananya.

Sederhana sekali, tidak selalu dibutuhkan orang lain untuk melakukan evaluasi diri, asalkan aku, kamu, kita, tahu, kapan kita sedang membohongi diri.

Tag:
Mei 14, 2010

The Song That Influenced Me a Lot

“Get It Together”

One shot to your heart without breaking your skin
No one has the power to hurt you like your kin
Kept it inside, didn’t tell no one else
Didn’t even wanna admit it to yourself
And now your chest burns and your back aches
From 15 years of holding the pain
And now you only have yourself to blame
If you continue to live this way

[Chorus:]
Get it together
You wanna heal your body
You have to heal your heart
Whatsoever you sow you will reap
Get it together

You can fly fly

Dark future ahead of me
That’s what they say
I’d be starving if I ate all the lies they fed
Cause I’ve been redeemed from your anguish and pain
A miracle child I’m floating on a cloud
Cause the words that come from your mouth
You’re the first to hear

Speak words of beauty and you will be there
No matter what anybody says
What matters most is what you think of yourself

[Chorus]

The choice is yours
No matter what it is
To choose life is to choose to forgive
You don’t have to try
To hurt him and break his pride
To shake that weight off
And you will be ready to fly

One shot to your heart without breaking your skin
No one has the power to hurt you like your friends
Thought it will never change but this time moved on
An ugly duckling grew up to be a swan
And now your chest burns and your back aches
Because now the years are showing up on your face
But you’re never be happy
And you’ll never be whole
Until you see the beauty in growing old

[Chorus]